Pria Dan Perihal Di Benaknya

Literisasi Sastra

Semangat Baru & Terpercaya

Cerpen Heru Prasetio (Palembang Ekspres, Sabtu-Ahad, 22-23 Juli 2017)

IMG_20170723_190732_211
Cerpen saya yang dimuat di Koran Palembang Ekspres

Ada satu hal yang sering membuat benak pria itu menjadi terbebani. Perihal yang berulang-ulang terjadi semenjak ia diterima kerja. Jikalau belum berhasil mencari solusi atas perihal ini, maka kepalanya menjadi sakit. Ingin sekali rasanya pria itu membenturkan kepalanya ke dinding. Berharap besar perihal ini dapat buyar dan tidak lagi menggerogoti benaknya. Anehnya, pria itu tidak ada nyali untuk melakukannya. Sia-sia saja pikirnya.

Untuk meredam sakit agar tidak terlalu menggila, pria itu memutuskan untuk merelaksasikan pikirannya di akhir pekan ini. Salah satu tempat pria tersebut merelaksasikan pikirannya adalah taman kota, tempat orang berkumpul untuk menghabiskan waktu luang. Awalnya benak pria itu menjadi tenang. Merasakan sensasi terapi menguasai diri untuk tidak terlalu memikirkan perihal ini. Tetapi, ada saja orang yang membuat benak pria tersebut kembali memikirkannya. Salah satunya adalah pengamen cilik.

Pria tersebut memperhatikan dengan saksama pengamen cilik yang mendekatinya dan mulai bernyanyi dengan suara sumbang diiringi petikan senar gitar seadanya. Bajunya compang-camping. Wajahnya lusuh dan matanya sayu ketika bernyanyi. Seperti ada cerita sedih yang ingin diutarakannya. Selesai bernyanyi, pengamen cilik itu menyodorkan kaleng susu bekas. Pengamen cilik berharap besar agar pria itu menjatuhkan sedikit rezeki ke kaleng susu bekas miliknya. Harapan pengamen cilik pupus, pria itu merespon dengan gelengan kepala. Pengamen cilik tertunduk lesu, berjalan menjauhi pria itu. Usai menggelengkan kepalanya, pria itu melanjutkan kembali terapi menguasai diri. Menarik nafas perlahan dan menikmati suasana taman. Terapinya kacau. Sosok pengamen cilik muncul di benaknya. Titik-titik perihal ini menajam tinggi. Kepala pria itu mulai sakit. “Ya Tuhan, kenapa aku tidak beri uang saja ke pengamen cilik itu?” Pria itu membatin.

Tidak tahan dengan kepalanya yang semakin berdenyut sakit, pria itu memutuskan untuk pergi dari taman kota. Dia memacu kuda mesinnya, menuju sebuah kedai makanan. Usai memesan makanan dan minuman yang paling mahal, pria itu duduk termangu menghadap jalan. Memperhatikan lalu lalang kendaraan yang membosankan dan memikirkan bagaimana caranya menghilangkan perihal ini di benaknya. Tidak sampai lima menit, pesanan pria itu datang beserta nota pembayarannya.

Ketika melihat nota pembayaran, sakit kepala pria itu semakin jadi. Dengan terpaksa, ia mulai melumat makanan dan sesekali menyeruput minuman. Kepalanya yang semula sakit parah, perlahan berkurang sakitnya ketika mendengar suara-suara aneh yang berusaha meluruskan benang-benang kusut di benaknya. Suara-suara aneh itu hilang, benang-benang di benaknya yang semula ingin lurus, kini kusut lagi. Sakit kepala pria itu kembali lagi. Tidak tahan karena sakitnya makin jadi, pria itu segera meninggalkan kedai. “Ya Tuhan, kenapa aku tadi tidak memesan makanan dan minuman yang murah saja?” Pria itu membatin.

Ketika mau menghidupkan mesin motor, mendekatlah sesosok ibu yang membawa beberapa kantong kerupuk. Ibu itu bilang kalau kerupuknya belum laku sama sekali. Matanya berkaca-kaca seperti kucing kelaparan yang berharap diberi makanan sisa oleh majikannya. Ajaib. Pria itu terketuk hatinya untuk membeli sekantong kerupuk. Kepalanya yang semula sakit, perlahan reda. Terbitlah senyum kecil yang membingkai wajahnya. Ketika hendak menerima kembalian, pria itu kaget bukan kepalang karena dompet ibu itu banyak sekali uangnya. Pria itu kesal. Terbenamlah senyum kecil yang membingkai wajahnya. Kepalanya sakit lagi. “Ya Tuhan, kenapa aku tadi membeli dagangan ibu itu?” Pria itu membatin.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, kepala pria itu semakin jadi sakitnya. Tangan kiri memijat kepala yang sakit, tangan kanan menarik gas sepeda motor yang usianya genap dua tahun. Sepeda motor itu dibelinya kontan saat pria itu diangkat menjadi karyawan tetap di tempatnya bekerja. Ada kebanggaan, tapi ada juga kesedihan. Bangga karena dapat membeli barang sendiri dan bisa menolong keluarga. Sedih karena perihal ini selalu muncul di benaknya. Pria itu menangis sejadi-jadinya. Konsentrasinya pecah. Truk di depannya tiba-tiba berhenti mendadak. Pria itu tidak sempat menginjak atau pun menekan rem motornya. Brak! Perihal di benaknya menghilang.

Sayup-sayup terdengar suara tangis dua wanita meminta maaf kepada pria itu. Satu wanita yang umurnya lebih muda mengaku berbohong karena alasan dia meminta uang bukanlah untuk membayar kuliah, tetapi dipakai untuk hura-hura. Satu lagi wanita yang umurnya jauh lebih tua mengaku berbohong juga karena alasan dia meminta uang bukanlah untuk keperluan sehari-hari, tetapi diberi ke selingkuhannya. Di ruang yang serba putih ini, pria itu kembali mengingat pesan terakhir yang disampaikan pria tua yang meninggal dunia sehari setelah pria itu membeli motor barunya.

“Tolong! Tinggalkanlah pekerjaan yang membuat perihal di benakmu itu muncul terus, Nak! Tuhan masih sayang dengan kamu. Ingat, dunia ini hanya sementara, Nak!”

Bulir bening jatuh membasahi pipi pria itu. Perihal di benaknya muncul lagi dan kepalanya kembali sakit.

Palembang, Juli 2017

(*) Heru Prasetio, Alumni Universitas Tridinati Palembang ini hobi membaca dan menulis. Dia bergabung di komunitas sastra Kota Kata Palembang.

5 pemikiran pada “Pria Dan Perihal Di Benaknya

  1. Ga tau mau ngmng apa. Cmn mau kasih tau pas baca bagian setelah menolak memberi uang ke pengamen cilik tapi setelahnya membeli makanan paling mahal, kemudian akhirnya membeli kerupuk, namun menyesal Krn di dompet si ibu terlihat banyak lembaran uang, sampe di klimaks sayup2 terdengar suara 2 wanita menangis dan karena uang…. rasanya jleb. Betapa uang, pekerjaan dan entah apa lagi karena urusan dunia bisa menyenangkan atau menyakitkan hanya dalam selang waktu berdekatan belum tentu pun bikin hidup tenang🥺
    Dalem ceritanya ♥️

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke Heru Prasetio Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s