Mencontoh Akhlak Rasulullah

Yang berhasil saya catat pada kajian islam ilmiah Palembang bersama Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc Hafidzhahullah (Alumni Universitas Islam Madinah) di Masjid Taqwa Palembang (Jumat Malam, 27 September 2019) adalah sebagai berikut:

Screenshot_20190929-215024_1.jpeg

Judul: “Mencontoh Akhlak Rasulullah”

Assalamualaikum Wr. Wb.

Beberapa contoh akhlak Rasulullah adalah sebagai berikut:

1. Tawadhu
Tawadhu adalah akhlak memandang orang lain lebih baik dari kita. Setiap kali dirimu melihat seorang muslim, dirimu merasa dia lebih baik dari padamu. Yang dilihat oleh Allah bukan banyaknya amal, tetapi dari hatinya. Akhlak tawadhu harus dimiliki pada zaman sekarang. Penyakit dari kebalikan tawadhu adalah sombong. Hati-hati karena sombong dapat menyebabkan masuk neraka.

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

2. Ikhlas
Ikhlas itu artinya tidak mengharapkan pujian, tidak mengharapkan pengakuan melainkan hanya mengharap ridho di sisi Allah. Kita berdakwah kepada Allah harus ikhlas, tidak mengharapkan pujian. Orang yang kehilangan ikhlas itu mengerikan sekali.

3. Zuhud
Zuhud adalah akhlak seseorang dimana ia mengutamakan cinta akhirat dan meringankan cinta dunia.

P_20190927_195917_vHDR_On-01.jpeg
Para jamaah dengan seksama mendengar ceramah Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc Hafidzhahullah

4. Sabar
Kesabaran itu indah di telinga, tapi sulit diamalkan. Menurut Rasulullah, “Sabar itu umpama sinar matahari.” (Muttafaq ‘alaih) Walaupun ia panas membahang, tetapi dialah sumber tenaga yang menyinari alam. Sabar adalah mentari dalam kehidupan kita. Manfaatnya besar sekali. Kita perlu sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (QS. Al-Baqarah: 45-46)

Kita juga butuh sabar dalam meninggalkan kemaksiatan kepada Allah. Ali bin Thalib mengatakan kesabaran dalam keimanan seperti kepala pada badan. Karena iman kepada Allah, kita harus meninggalkan larangan Allah dengan perlu kesabaran.

“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sebagian rasa takut, rasa lapar, serta kekurangan harta, jiwa, dan buah. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” ( Q.S. al-Baqarah: 155 )

Rasulullah bersabda siapa yang ingin menasehati penguasa harus diam-diam, harus sabar.

Sabar juga tidak ada batasnya. Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Basysyar telah bercerita kepada kami Ghundar telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Hisyam berkata, aku mendengar Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada kaum Anshar:

“Sepeninggalku nanti, akan kalian jumpai sikap atsarah (sikap egoism, individualis, orang yang mementingkan dirinya sendiri). Maka bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku dan tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah telaga al-Haudl (di surga).” (HR. Bukhari: 3509)

Menasehati seseorang juga harus sabar. Apabila ada orang yang menjelekkan kamu dengan aibmu yang diketahuinya, maka jangan kamu menjelekan dia balik dengan aibnya yang kamu ketahui. Kita harus sabar, tidak mudah terpancing dan tidak mudah tergesa-gesa dan nekat. Ingat! Berani tidak sama dengan nekat. Kalau nekat itu beraninya tapi ngawur, tidak penuh perhitungan sedangkan berani itu seseorang berani dengan penuh keilmuwan.

P_20190222_205322_vHDR_On_1.jpeg
Interior Kubah Masjid Taqwa Palembang

5. Lemah lembut

Lemah lembut artinya menjauhkan lisan dari kata-kata yang meyakiti hati, kata-kata yang dikeluarkan harus sopan santun dan menempatkan manusia pada tempatnya. Berikut pentingnya lemah lembut:

Diceritakan dalam sebuah riwayat, bahwa pernah suatu saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika sedang duduk di beranda rumah bersama istrinya (‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu), lewatlah seorang Yahudi yang pada saat lewat di depan beranda rumah beliau orang Yahudi itu memaki-maki Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan mengeluarkan kata-kata kasar. Menyaksikan peristiwa itu, ‘Aisyah pun beranjak dari tempat duduknya dengan muka merah dan berkeinginan untuk membalas makian orang yahudi tersebut.

Menyaksikan reaksi ‘Aisyah, dengan lembah lembut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata: “Bersikap lemah lembutlah isteriku, ‘Aisyah. Karena Allah mencintai hamba-Nya yang bersikap lemah lembut. Allah akan memberi sesuatu yang terbaik kepada hamba-Nya karena kelembutan sikap hamba-Nya itu. Dan Allah tidak akan pernah memberikan rahmat-Nya kepada setiap hamba-Nya karena kekerasan sikap hamba itu, dan tidak juga bukan karena yang lain.” (HR. Muslim)

P_20190927_202726_vHDR_On.jpeg
Indahnya Masjid Taqwa Palembang pada malam hari

Pertanyaan dan Jawaban:

1. Kenapa ustadz-ustadz sunah tidak ikut politik? Politik ada dua yakni politik yang syari dan tidak syari. Para ulama tidak akan masuk ke politik yang tidak sesuai syariat. Sedangkan para ulama ahli ijtihad yang bisa masuk politik syari, bukan sembarang ulama.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

2. Amalan akhlak apa yang bisa diamalkan setiap hari? Tersenyum. Karena tersenyum adalah sodaqoh dan amalan yang paling ringan.

3. Apa saja adab menyampaikan ilmu? Amanah, ilmiah, jelas ilmunya yakni dari Al-Quran dan hadits yang shahih, tidak menambah-ngurangi apa yang disampaikan ustadz, harus tahu audiensinya dan menyapaikan ilmu dengan hikmah bukan arogan.

4. Bagaimana mensiasati dalam berdakwah ke keluarga? Mendakwahi keluarga dengan cara yang baik yakni silaturahmi, kasih contoh yang baik, sering kasih hadiah dan berikan terus teladan yang baik.

5. Kiat mengajak istri ikut kajian? Rayulah istrimu. Puji dia. Gunakan sikap lemah lembut, semoga dengan begitu hatinya terketuk. Insya Allah.

*Semoga bermanfaat. Barakallah! 😇

Wassalamualaikum, Wr. Wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s