Sumpah Bubur Kacang

Literisasi Sastra

Semangat Baru & Terpercaya

Cerpen Heru Prasetio (Palembang Ekspres, Senin & Rabu, 09 & 11 Juli 2018)

Cerpen Sumpah Bubur Kacang 1.jpeg
Cerpen saya yang dimuat di Koran Palembang Ekspres, Senin, 09 Juli 2018 Halaman 5

Gemercik gerimis mengawali pagi hari yang tiada bersahabat. Langit putih bersih membungkus kawasan Perumahan Indah Patra, salah satu perumahan elit nan megah di ibu kota provinsi. Bu Wati, penjual bubur kacang hijau yang biasanya hadir tepat waktu kini tak kunjung datang melintasi jalanan depan rumah Pak Ruam. Tiap pagi Pak Ruam selalu duduk di teras rumah, setia menunggu kedatangan Bu Wati. Seirama suasana, cuaca mendung tampak membingkai wajah beliau.

***

Guratan wajah Pak Ruam yang semula kusut kini berubah jadi sumeringah, tatkala mendengar bunyi kentongan gerobak bubur kian mendekat. Dengan buru, duda beranak tunggal itu lari-lari kecil ke depan gerbang. Antusias ingin jumpa dengan si tukang bubur.

“Pagi Pak! Mau pesan berapa mangkok buburnya?” Kata seorang gadis remaja.

“Ha? Kok, Rani yang jualan?”

“Begini pak, ibu saya lagi sakit. Jadi saya yang menggantikan ibu jualan hari ini. Terpaksa deh, saya bolos sekolah.”

“Emang ibu kamu sakit apa, Ran? Kok tidak pernah cerita dengan bapak? Perasaan kemarin dia baik-baik saja.”

“Kecelakaan lalu lintas, Pak.”

Inalillahi. Bagaimana keadaan ibumu, Nak? Terus, kronologis kejadiannya gimana?

“Kemarin siang ibu habis belanja di pasar untuk membeli keperluan membuat bubur. Tiba-tiba ada mobil warna putih dengan plat nomor polisi, berapa yah? Saya lupa. Mobil tersebut dengan sengaja menabrak ibu saya dari arah samping. Ibu saya terjatuh di kubangan air dan kakinya luka berdarah. Untungnya, ibu masih bisa pulang ke rumah meski jalan pincang dan baju berlumur kotoran. Saya tak tega melihat ibu. Hanya sebagian bahan baku bubur yang tersisa. Yah, sisa inilah yang saya jual hari ini, Pak,” bulir bening perlahan luruh dari kedua bola matanya.

***

Mendengar cerita Rani, beliau merasa iba. Dia tahu kalau ibunya orang tua tunggal yang berjuang mati-matian membiayai kebutuhan hidup mereka berdua. Ayahnya Rani meninggal dunia pada saat dia bayi. Pak Ruam mengetahui seluk-beluk kehidupan mereka karena Bu Wati sering cerita dengannya. Usut punya usut, ternyata Bu Wati adalah mantan kekasih Pak Ruam waktu SMA. Hubungan mereka kandas karena perbedaan status sosial dan ajaibnya, mereka dipertemukan kembali meski senja mulai menghantui usia.

Cerpen Sumpah Bubur Kacang 2.jpeg
Cerpen saya yang dimuat di Koran Palembang Ekspres, Rabu, 11 Juli 2018 Halaman 5

“Lantas, orang yang menabrak ibumu tanggung jawab? Atau tabrak lari?”

“Tabrak lari, Pak”

“Kurang ajar sekali itu orang. Tidak punya otak. Saya sumpahi dia kecelakaan. Mobilnya rusak berat!”

Glegarrr!

Gemuruh petir menyertain sumpah serapah Pak Ruam. Angin ribut seketika datang, hendak merobohkan pohon-pohon di depan rumahnya. Hujan gerimis merubah intensitas debitnya. Langit terlihat murka seakan mau memuntahkan seluruh isinya. Hujan lebat menghujam. Gerobak bubur gegas didorong ke teras rumah.

***

“Ya Allah, Pak. Jangan bilang sembarangan gitu, tidak baik. Toh, saya dan ibu telah mengikhlaskan musibah kecelakaan kemarin,” kata Rani sambil meracik bubur kacang hijau pesanan Pak Ruam.

“Biarin, Nak. Biar tahu rasa itu orang. Makan tuh sumpah!” Sendok bubur pertama melesat masuk ke mulutnya.

Hujan kali ini begitu lama. Rani sabar menanti redanya hujan. Pak Ruam masih duduk di teras menemani Rani. Beliau kekenyangan karena telah menandaskan tiga mangkok bubur. Tiga jam lebih hujan baru reda.

***

“Ngiung, Ngiung, Ngiung!”

Terdengar bunyi sirine mobil polisi mendekat ke rumah. Di belakang mobil polisi, terlihat mobil derek asuransi menggandeng sebuah mobil putih yang kini bentuknya tidak karuan lagi. Pak Ruam dan Rani sangat terkejut menyaksikan apa yang ada dihadapan mereka. Sejurus kemudian, mendekatlah dua orang polisi berbadan kekar.

“Selamat pagi, Pak! Apakah bapak pemilik mobil itu? Nomor plat polisinya BG 666 JK. Waktu hujan deras tadi, mobil tersebut tabrak ‘adu kambing’ dengan truk batu bara di Jalan Kemuning Timur, KM 14, dekat Tempat Pemakaman Umum Batunias. Pengemudinya sekarang dilarikan ke Rumah Sakit Ibu Kota Provinsi.”

Ya Allah, Anhar!”

Ingatan Pak Ruam melayang akan kejadian kemarin siang. Anhar marah besar. Dia tidak setuju perihal rencana ayahnya yang ingin menikah lagi. Apalagi dengan tukang bubur. Mau taruh di mana mukanya. Anhar kemudian kabur entah kemana.

Singkat cerita, Pak Ruam kena serangan jantung dan akhirnya pingsan jatuh menimpa gerobak. Bubur kacang hijau tumpah ruah ke mana-mana. Rani diam mematung. Bergeming. Heran. Dia baru ingat ternyata nomor plat mobil putih yang menabrak ibunya kemarin, sama persis dengan nomor plat mobil putih yang kini tak karuan lagi bentuknya.

Palembang, Juli 2018

(*) Heru Prasetio, seorang Travel Blogger Palembang yang hobi baca novel dan menulis. Dia aktif bergabung dalam Komunitas Sastra Kota Kata Palembang. Kunjungi blog pribadinya di jalanheru.wordpress.com atau juga follow instagramnya @heruprasetio99.

2 pemikiran pada “Sumpah Bubur Kacang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s